Subscribe For Free Updates!

We'll not spam mate! We promise.

Tampilkan postingan dengan label sejarah islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sejarah islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 September 2014

Raja Faisal, Raja Yang Adil Dan Pemberani


Raja Faisal adalah kepala negara Arab Saudi yang paling populer hingga saat ini. Dia pernah dinobatkan sebagai Man of the Year 1974 versi majalah TIME, sebuah media massa terkemuka di Amerika Serikat. Namun penobatan itu bukan lantaran Faisal disenangi publik Amerika, tapi sebaliknya dia adalah orang yang pernah bikin pusing pemerintah Amerika, bahkan hampir membuat negara itu lumpuh akibat embargo minyak yang diprakarsainya.

Nama lengkapnya adalah Faisal Ibnu Abdul Aziz Ibnu Abdul Rahman Ibnu Faisal As-Saud. Ia dilahirkan pada bulan April 1906. Faisal adalah putra Raja Abdul Azis ibnu Saud pendiri dinasti Saudiyah di Jazirah Arab, sekaligus pendiri Kerajaan Arab Saudi pada tahun 1932.

Faisal juga keturunan langsung Muhammad bin Abdul Wahhab, pendiri paham keagamaan Wahabiyah, melalui ibunya. Wahabiyah adalah suatu gerakan reformasi dan purifikasi keagamaan Islam yang menjadi penyokong utama Raja Abdul Aziz saat mendirikan Kerajaan Arab Saudi.

Pendidikan Faisal terutama adalah pendidikan agama. Di antara keluarganya dia tergolong menonjol. Debut pertamanya adalah saat di masa remajanya, yakni saat berumur 13 tahun, Faisal berkesempatan menjadi orang pertama dalam keluarganya yang mengunjungi Inggris dan Perancis, selepas Perang Dunia I. Di sana ia dianugerahi medali St. George dan medali St. Michael dari Raja Inggris.

Pada umur 16 tahun Faisal dipercaya menjadi pemimpin sebuah ekspedisi untuk menumpas pemberontakan sebuah suku di Asir, Hijaz bagian Selatan. Kemudian pada umur 19 tahun ia menjadi komandan pasukan yang merebut kota Jeddah dari suku Hashemit, rival dinasti Arab Saudi.

Ayahnya mengangkat Faisal menjadi Raja Muda Hijaz pada tahun 1926. Setelah itu pada tahun 1930 ia diangkat menjadi menteri luar negeri. Faisal mencapai puncak karir militernya pada tahun 1934 dengan suatu kenaikan pangkat yang cepat setelah merebut pelabuhan Hoderida selama perang singkat melawan Yaman.
Ia pergi ke Amerika Serikat untuk pertama kalinya pada saat dimulainya Perang Dunia II. Faisal kembali setelah perang itu berakhir tahun 1945. Ia ikut berpartisipasi dalam peristiwa pendirian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di San Fransisco pada tanggal 24 Oktober 1945 sebagai wakil Arab Saudi. 
Ketika ayahnya, Abdul Azis, wafat pada tahun 1953, kakak Faisal yang bernama Saud menggantikannya. Faisal menjadi putra mahkota Saud. Setahun kemudian, tepatnya tahun 1954, Faisal diangkat menjadi Perdana Menteri.

Sebuah krisis keuangan pemerintah yang parah pada tahun 1958 mendorong pengalihan kekuasaan administratif secara penuh kepada Faisal. Sehingga Saud hanya sebagai simbol saja.

Pada tahun 1964, akhirnya Saud diturunkan dari tahtanya, digantikan Faisal. Raja baru ini kemudian bekerja dengan penuh semangat mempersatukan dunia Islam dan dunia Arab, sehingga menjadi pemimpin yang menonjol di dunia Islam dan dunia Arab. 
Salah satu peran pentingnya adalah turut membidani lahirnya Organisasi Konferensi Islam (OKI). Ini didorong oleh keinginannya yang kuat untuk mempersatukan dunia Islam dan mempererat ukhuwah Islamiyah.

Faisal dikenal sebagai raja yang shalih dan sangat memperhatikan kesejahteraan rakyatnya. Salah satu langkah awal dari program Faisal untuk mensejahterakan rakyatnya adalah me-'rumah'-kan rakyatnya. Hal ini karena mayoritas rakyatnya adalah orang-orang Badwi yang memiliki pola hidup nomaden (berpindah-pindah tempat tinggal) di padang pasir. Faisal berpendapat cara hidup seperti ini susah untuk membuat orang sejahtera.

Untuk itu Faisal membangun prasarana berupa jalan beraspal, perumahan yang layak dan membuka lapangan pekerjaan di berbagai bidang untuk seluruh rakyatnya. Faisal juga membuat pembaharuan dalam bidang pendidikan. Tadinya perempuan tidak diberi kesempatan memasuki sekolah. Sejak zaman pemerintahan Faisal perempuan didorong untuk sekolah. "…untuk pertama kali kita mendorong anak-anak perempuan untuk belajar di sekolah negeri," kata Raja Faisal, seperti dikutip majalah National Geographic, edisi Januari 1966.

Dengan dibuatnya jalan-jalan aspal modern di gurun-gurun pasir Arab Saudi maka perjalanan di gurun menjadi jauh lebih singkat. Sebuah perjalanan yang sebelumnya ditempuh 3-4 hari menjadi menjadi hanya 6-7 jam. Tentu saja ini jadi semakin menggerakkan roda ekonomi. Lalu lintas pun jadi semakin ramai. Gedung-gedung, apartemen-apartemen, dan hotel-hotel berdiri dalam waktu singkat. Pemandangan itu jadi mendominasi langit Makkah, Madinah, Jeddah, dan Riyadh.

Pada masa awal pemerintahan Faisal itu pula ditemukan ladang-ladang minyak baru di perairan Arab Saudi, terutama di lepas pantai kota Dahran. Penempuan ini jelas berdampak positif bagi program pembangunan yang dicanangkan Raja Faisal. Penemuan emas hitam itu membenarkan janji Allah dalam Al-Quran, "Jika penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, Allah akan menurunkan berkah dari langit dan bumi."

Sejak itu Arab Saudi menjadi negara dengan sumber minyak bumi terbesar di dunia. Seluruh Timur Tengah pada tahun 1968 menghasilkan 3,8 milyar barel pertahun, terbesar di dunia. Cadangan minyak yang belum digali ada 248 milyar barel. Saingan terdekatnya adalah Afrika yang cadangan minyaknya 42,5 milyar barel.

Keadaan itu menjadikan negara-negara di kawasan Timur Tengah mempunyai posisi tawar tinggi dalam politik ekonomi minyak melawan Uni Sovyet dan Amerika. Inilah yang disebut senjata minyak, karena konsumsi minyak tertinggi adalah negara-negara industri yaitu Amerika, Jepang dan benua Eropa.

Dalam perang Enam Hari antara negara-negara Arab melawan Israel pada bulan Juni 1967, Arab Saudi tidak melibatkan tentaranya. Namun pemerintah negeri itu memberikan subsidi ekonomi yang tinggi kepada negara-negara Arab yang memerangi Israel, yakni Mesir, Yordan dan Suriah.

Pada Perang Yom Kippur tahun 1973, perang besar kedua antara Arab Israel, Arab Saudi kembali mengambil peran besar dalam mendanai perang itu. Perang itu disebut Perang Yom Kippur karena peperangan itu terjadi pada saat hari raya umat Yahudi, Yom Kippur. Kadang disebut juga Perang Badar Baru karena terjadi pada bulan Ramadhan.

Berkat dukungan itu, pasukan Mesir yang terdiri ari sukarelawan Ikwanul Muslimin dan tentara reguler Mesir menghasilkan kemenangan yang gilang-gemilang. Pasukan Israel terpukul mundur dari tepi timur Terusan Suez dan terpukul mundur pula dari sebagian Jazirah Sinai.

Kemenangan ini juga berkat strategi yang hebat. Pada saat pasukan Mesir menyerang dari arah Barat, pada saat yang sama tentara Irak dan Yordania menyerang dari arah timur, tentara Suriah dan Libanon dari arah utara, serta mujahidin Palestina dari dalam kota-kota di wilayah pendudukan Israel. Sebagian besar biaya perang ini ditanggung oleh Arab Saudi.

Karena Amerika Serikat dan negara-negara industri Eropa diketahui menjadi pendukung penuh Israel, Raja Faisal kemudian menggunakan minyak sebagai salah satu senjata perangnya. Ia memimpin embargo minyak kepada negara-negara Barat. 

Akibatnya industri dan transportasi di negara Barat menjadi kacau. Rakyat Amerika dan Eropa mengantri panjang untuk mendapatkan BBM. BBM dijatah seperti Indonesia pada masa krisis. Akibatnya Amerika terpaksa menghentikan sementara bantuannya kepada Israel.

Untuk mengatasi krisis Presiden AS Richard Nixon sampai turun tangan langsung. Ia segera mengunjungi Raja Faisal di negaranya pada bulan Juni 1974 dan memintanya menyerukan penghentian embargo minyak dan perang Arab-Israel. Dengan penuh izzah Raja Faisal berkata, "Tidak akan ada perdamaian sebalum Israel mengembalikan tanah-tanah Arab yang dirampas pada tahun 1967!" Alhasil Nixon pulang ke negaranya dengan tanpa hasil.

Penolakan itu jelas membuat Amerika merasa geram. Diam-diam mereka merencanakan sebuah operasi untuk menyingkirkan Raja Faisal. Pada tanggal 25 Maret 1975 Faisal wafat, dibunuh oleh keponakannya sendiri di istananya. Penyelidikan resmi menyatakan pembunuhan itu dilakukan sendiri. Namun banyak orang yakin, Amerika dengan CIA-nya berperang sebagai dalang pembunuhan itu.
Selamat jalan wahai raja yang adil dan pemberani. Semoga Allah menempatkan engkau bersama para syuhada di surga-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab. (Agung Pribadi/SHW).

Sumber: http://yudhim.blogspot.com

Minggu, 01 Juni 2014

Mengenal Sosok Umar Bin Khattab

tinta

Umar bin Khattab dilahirkan 12 tahun setelah kelahiran Rasulullah. Ayahnya bernama Khattab dan ibunya bernama Khatamah. Perawakannya tinggi besar dan tegap dengan otot-otot yang menonjol dari kaki dan tangannya, jenggot yang lebat dan berwajah tampan, serta warna kulitnya coklat kemerah-merahan. Beliau dibesarkan di dalam lingkungan Bani Adi, salah satu kaum dari suku Quraisy.

Umar bin Khatab adalah salah satu sahabat dekat Rasulullah SAW dan khalifah kedua setelah Abu Bakar Ash shiddiq r.a. Beliau termasuk dalam 10 orang yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW. Dijuluki sebagai Umar Al Faruq (sang pembeda) karena ketegasannya dalam menegakkan kebenaran. Seorang yang keras namun berhati selembut salju, administrator dan peletak landasan manajemen ekonomi negara yang cemerlang.

Semenjak menjadi khalifah hidup sangat sederhana, meskipun  kaya raya. Beliau hendak memberikan teladan yang baik bagi kaum muslimin tentang  konsep jabatan, harta dan zuhud seperti yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.Khalifah setelah Abu Bakar itu dikenal sangat sederhana. Tidur siangnya beralaskan tikar dan batu bata di bawah pohon kurma, dan ia hampir tak pernah makan kenyang, menjaga perasaan rakyatnya. Padahal, Umar adalah seorang yang juga sangat kaya.

Ketika wafat, Umar bin Khattab meninggalkan ladang pertanian sebanyak 70.000 ladang, yang rata-rata harga ladangnya sebesar Rp 160 juta—perkiraan konversi ke dalam rupiah. Itu berarti, Umar meninggalkan warisan sebanyak Rp 11,2 Triliun. Setiap tahun, rata-rata ladang pertanian saat itu menghasilkan Rp 40 juta, berarti Umar mendapatkan penghasilan Rp 2,8 Triliun setiap tahun, atau 233 Miliar sebulan (70.000x40juta).

Umar adalah khalifah yang sangat mementingkan usaha dan kerja yang produktif. Ia menjadikan kerja sebagai bentuk ibadah tertinggi. Ia pernah berpetuah: “Aku tetapkan kalian tiga bepergian: berhaji, berjuang di jalan Allah, dan berunta demi mencari sebagian karunia Allah.” Bahkan ia menganggap syahid seseorang yang meninggal dalam perjalanan terakhir.

Suatu waktu, Umar menanyakan nafkah seseorang yang tekun beribadah di masjid. Orang itu menjelaskan, “Aku memiliki saudara yang mencari kayu. Lalu dia mendatangiku dan mencukupiku.” Lalu Umar berkata, “Berarti, saudara engkau lebih beribadah daripada engkau.”

Masih soal kerja. Umar sering menasihati, “Cukupilah dirimu, niscaya akan lebih terpelihara agamamu dan lebih mulia dirimu.” Bukan saja menasihati, Umar juga mempraktekkannya setiap hari. Begitu selesai sholat shubuh, Umar selalu bergegas menuju kebunnya di Juruf. Ia berusaha mencukupi dirinya.

Umar memahami dengan baik arti penting ekonomi umat. Salah satu buktinya, ia mengutamakan pembangunan pasar dan masjid di daerah-daerah taklukan. Ia juga mengizinkan Utsman bin Abul Ash mengelola lahan tidur. Ia juga kerap menasihati para pekerja dan pegawai agar memiliki asset produktif yang dapat menghasilkan uang terus menerus. Umar juga menjajak orang-orang untuk berdagang. Nasihatnya, “Berdagang itu merupakan sepertiga harta.”

Umar sendiri memiliki 70.000 properti senilai triliunan rupiah. Namun begitulah Umar. Ia tetap saja sangat berhati-hati. Harta kekayaannya pun ia pergunakan untuk kepentingan dakwah dan umat. Tak sedikit pun Umar menyombongkan diri dan mempergunakannya untuk sesuatu yang mewah dan berlebihan.

Menjelang akhir kepemimpinan Umar, Ustman bin Affan pernah mengatakan, “Sesungguhnya, sikapmu telah sangat memberatkan siapapun khalifah penggantimu kelak.” Subhanallah!

1240474_595513217154773_1024734066_n

 

Tag Technorati: ,

Sumber: http://mygoresankecil.blogspot.com

Sabtu, 10 Mei 2014

Penaklukan Andalusia (spanyol) Oleh Thariq bin Ziyad


      Andalusia adalah negeri kaum Muslimin yang pernah ditaklukan oleh panglima perang Thariq bin Ziyad. Thariq berasal dari suku Barbar, Afrika yang kemudian memeluk Islam. Entah mungkin untuk mendiskreditkan perjuangan Thariq bin Ziyad, kata-kata Barbar kemudian jika disematkan kemudian berkonotasi negatif, yang berarti tidak beradab, kejam atau kasar.

Negeri Andalusia yang pernah dikuasai kaum Muslimin dan sempat mencapai kegemilangan di bidang ilmu pengetahuan di bawah pemerintahan Islam kini telah dikuasai Nasrani. Oleh sebab itu, Syaikh Abdullah Azzam -rahimahullah- menyinggungnya dalam kitab “An-Nihayah wal Khulashah”:
“Bahkan jihad itu telah menjadi fardlu 'ain bukan saja sejak Rusia memasuki Afghanistan, akan tetapi jihad telah menjadi fardlu 'ain semenjak jatuhnya Andalusia ke tangan orang-orang Nasrani, dan hukumnya belum berubah sampai hari ini.
Dengan demikian jihad telah menjadi fardlu 'ain sejak tahun (1492 M), tatkala Ghornathoh (Granada) jatuh ke tangan orang-orang kafir --- ke tangan orang-orang Nasrani --- sampai hari ini. Dan jihad akan tetap fardlu 'ain sampai kita mengembalikan seluruh wilayah yang dahulu merupakan wilayah Islam, ke tangan kaum muslimin.”
Semoga kisah kegemilangan Thariq bin Ziyad yang dikutip dari kitab “Shuwarun min Hayatil Fatihin” bukan sekedar nostalgia semata, namun bisa menginspirasi dan memotivasi kaum Muslimin untuk berjihad meraih kembali kejayaan Islam.

Thariq bin Ziyad
Sang Penakluk Andalusia


          Thariq dilahirkan pada tahun 50 H (670 M), di tengah suku keluarga Berber (Barbar, red.) dari kabilah Nafazah, di Afrika Utara.
Thariq berperawakan tinggi, berkening lebar, dan berkulit putih kemerahan. Dia masuk Islam di tangan seorang komandan muslim bernama Musa bin Nusair, orang yang dikagumi karena kegagahan, kebijaksanaan dan keberanianya.[1]

Jalan Ke Andalusia

          Misi ekspansi pasukan Islam ke luar Jazirah Arab bermula di masa Khulafaur Rasyidin, dengan tujuan menyebarluaskan Islam ke seluruh wilayah yang memungkinkan untuk di jangkau pasukan Islam. Maka tercapailah penaklukan atas Syam (Syiria, Palestina, dan sekitarnya), Irak dan Iran (Persia).
Pasukan muslimin juga berangkat menaklukan Mesir di bawah pimpinan panglima ‘Amru ibnul-‘Ash. Mesir saat itu berada di bawah kekuasaan penjajah Romawi (Bizantium). Setelah masuk ke Mesir, mereka menuju ke arah Burqah, lalu sampailah pasukan Islam ke Tripoli (sekarang ibu kota negara Libya-red.) untuk mengepungnya dan mendudukinya.
Pada masa kekhilafahan Usman bin Afaan, pasukan Islam mulai membuka ekspansi ke kawasan Maghribi (Maroko dan sekitarnya), di bawah komandan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Di dalam pasukan terdapat putra-putra sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alahi wa Sallam.[2]

         Tekad dan semangat mereka semakin kuat setelah berperang melawan pasukan Romawi yang dipimpin Jurjir. Ekspansi itu berlanjut cepat hingga memasuki kota Carthago di pantai Utara Afrika, sebelah utara kota Tunis sekarang. Pasukan Islam di wilayah Ifriqiya ini di pimpin oleh komandan Uqbah bin Nafi’. Ia memiliki wawasan yang luas tentang situasi daerah itu. Selanjutnya ia membangun kota Qairawan (Kairaouan) di Tunisia, untuk mengukuhkan keberadaan Islam di bumi Afrika.

         Selanjutnya Uqbah bin Nafi’ dan pasukannya bergerak kearah barat dan selatan dan sampai ke Tangier (Arab: Tanja), sekarang Maroko. Dalam perjalanan pulang ke Qairawan ia dihadang gerombolan suku Berber. Uqbah bin Nafi’ terbunuh bersama tiga ratus tentaranya. Ia dimakamkan di suatu tempat yang sekarang dinamai Sidi Uqbah (Tahuda) di Aljazair sekarang.

         Kaum muslim menuntut balas atas kematian Uqbah, dan mereka berhasil membunuh Kasilah, komandan perang Berber. Namun, tindakan balas-membalas itu tidak berkepanjangan, sebab orang Berber sudah merasa puas dengan terbunuhnya Zuhair bin Qais yang membunuh Kasilah. Zuhair gugur di Qadisiyyah (Irak).
Dan pada akhirnya pasukan muslimin berhasil menaklukkan wilayah Ifriqiya di bawah komando Hasan bin an-Nu’man al-Ghassani yang berhasil menceraiberaikan pasukan Berber. Ia juga memorakporandakan pasukan Romawi, dan menang dalam perang melawan pasukan Al-Kahin (Sang Dukun) sesudah menaklukkan Bazrat.

          Setelah itu datanglah Musa bin Nushair sebagai pemegang komando utama pasukan muslimin di Afrika. Ia meraih berbagai kemenangan sampai jauh ke barat di tepi samudera, dan kembali ke Qairawan sesudah terbina keamanan dan ketertiban.
Saat itulah seorang komandan Berber bersama pasukannya masuk Islam. Ia sebelumnya dikenal sebagai komandan penjaga di Tangier. Ia adalah Thariq bin Ziyad.
Jalan ke daratan Spanyol terbuka luas setelah Julian, pangeran Spanyol di Ceuta (Sabatah) meminta bantuan Musa bin Nusair untuk menyerang dan menjatuhkan Raja Roderick dari bangsa Visigoth yang berkuasa di Spanyol dari ibu kotanya di Toledo. Julian marah karena Raja Kristen Roderick memperkosa adik perempuannya yang ia titipkan ke Raja untuk bisa memperoleh pendidikan tinggi. Thariq dan Julian pun berkawan dekat.


Menaklukkan Andalusia (Spanyol)

          Musa bin Nushair merasa perlu menguji Count (Pangeran) Julian dengan mengirim 500 tentara di bawah komando Tharif ke wilayah yang sampai kini dinamai Tarifa, di ujung paling selatan Spanyol. Orang Arab menamakannya Jazira Tharif (Terifa). Itu terjadi pada tahun91 H.[3]   Tharif membawa misi utama pengintaian kekuatan Kerajaan Bangsa Visigoth, serta penjajakan bagi sebuah operasi militer besar.

          Gubernur Musa semakin yakin akan kejujuran Pangeran Julian, setelah Pangeran Ceuta itu juga menyiapkan kapal-kapal yang akan digunakan untuk menyerang Spanyol. Dan setetlah mendapat izin dari Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik di Damaskus, Musa pun memutuskan menyerang Spanyol. Apalagi saat itu Raja Roderick di Toledo sedang menghadapi pemberontakan di bagian utara kerajaannya. Untuk melaksanakan misi besarkannya itu, Musa memilih seorang Berber, Thariq bin Ziyad, sebagai Komandan.
Panglima perang Thariq bin Ziyad bersama 7000 tentara, yang mayoritas berasal dari suku Berber, menyeberang ke Spanyol di tahun 711 M. ia mendarat dekat gunung batu besar yang kelak dinamai dengan namanya, Jabal (gunung) Thariq, Orang Eropa menyebutnya Gilbraltar.

          Setelah berhasil menyeberang ke daratan Spanyol, tiba-tiba Thariq mengambil langkah yang hingga sampai kini membuat tercengang para ahli sejarah. Ia membakar perahu-perahu yang digunakan untuk mengangut pasukannya itu. Lalu ia berdiri di hadapan para tentaranya seraya berpidato dengan lantang berwibawa, dan tegas.
Dalam pidatonya yang penuh semangat, panglima Thariq berkata;
“Di mana jalan pulang? Laut berada di belakang kalian. Musuh di hadapan kalian. Sungguh kalian tidak memiliki apa-apa kecuali sikap benar dan sabar. Musuh-musuh kalian sudah siaga di depan dengan persenjataan mereka. Kekuatan mereka besar sekali. Sementara kalian tidak memiliki bekal lain kecuali pedang, dan tidak ada makanan bagi kalian kecuali yang dapat kalian rampas dari tangan musuh-musuh kalian. Sekiranya perang ini berkepanjangan, dan kalian tidak segera dapat mengatasinya, akan sirnalah kekuatan kalian. Akan lenyap rasa gentar mereka terhadap kalian. Oleh karena itu, singkirkanlah sifat hina dari diri kalian dengan sifat terhormat. Kalian harus rela mati. Sungguh saya peringatkan kalian akan situasi yang saya pun berusaha menanggulanginya. Ketahuilah, sekiranya kalian bersabar untuk sedikit menderita, niscaya kalian akan dapat bersenang-senang dalam waktu yang lama. Oleh karena itu, janganlah kalian merasa kecewa terhadapku, sebab nasib kalian tidak lebih buruk daripada nasibku…”
Selanjutnya ia berteriak kencang: “Perang atau mati!” Pidato yang menggugah itu merasuk ke dalam sanubari seluruh anggota pasukannya.


           Dan pada 19 Juli 711 M, pasukan Thariq yang saat itu berjumlah 12000 personil setelah ada tambahan pasukan dari Ifriqiya, berhadapan dengan Raja Roderick dan pasukannya di mulut sungai (Rio) Barbate. Peperangan di bulan Ramadhan itu berlangsung sengit selama delapan hari. Pasukan Roderick pada awalnya sempat unggul, namun kelemahan di sayap kiri dan kanan pasukan mereka berhasil dimanfaatkan oleh pasukan Islam. Dan pasukan Roderick pun terdesak, hingga akhirnya dipukul mundur. Pasukan Islam berhasil meraih kemenangan gemilang. Roderick sendiri menghilang, dan di duga ia tenggelam di Sungai Barbate. Kuda dan sepatunya ditemukan di tepi sungai.
Gubernur Musa bin Nusair lalu mengirim surat kepada Khalifah Al-Walid, melukiskan jalannya peperangan Rio Barbate. “Penaklukan ini berbeda dari penklukan-penaklukan lain. Peristiwa seperti kiamat,” tulisnya.

          Kemenangan telak dalam pertempuran di Sungai Barbate itu membentang jalan bagi masuknya Thariq bin Ziyad menuju kota Sevilla yang dijaga oleh benteng-benteng kuat. Tapi sebelum merebut Sevilla, Thariq lebih dulu menaklukkan daerah-daerah lain yang lebih lemah. Sebagian ditaklukkan dengan cara damai, tapi sebagian terpaksa dengan kekerasan karena warga setempat melawan. Mereka bersikap ramah terhadap penduduk yang tidak melawan.
       
          Pasukan Thariq yang sudah lebih besar karena ada tambahan pasukan baru, kini mengarah ke Toledo, ibukota Visigoth (Gotik Barat). Di jalan ke Toledo itu mereka menyapu kota Ecija dimana sempat terjadi perdamaian dan menerima kekuasaan Muslim atas wilayah itu.

         Dengan cepat Thariq berusaha menaklukkan sebagian besar tanah Spanyol, yang oleh orang Arab dinamakan Al-Andalus (Andalusia) itu. Ia lalu membagi-bagi pasukannya ke dalam beberapa kelompok. Satu pasukan berhasil merebut Arkidona tanpa perlawanan, dan pasukan lainnya juga dengan mudah merebut kota Elvira dekat Granada. Ia lalu menaklukkan Cordoba dan sebagian wilayah Malaga. Kemudian diteruskan dengan mengepung Granada yang berhasil ditaklukkan dengan jalan kekerasan.

           Thariq lalu menuju ibukota Toledo. Di dalam perjalanan dia menyerang kota Murcia dan menghancurkan kerajaannya sampai lumat. Ketika pasukan Islam di Toledo ternyata para pemimpin Gotik telah meninggalkan wilayah itu. Thariq memasukinya dengan mudah. Ketika itu pasukannya didukung pula oleh ksatria-ksatria Kristen lokal yang tak suka kekuasaan Bangsa Gotik Barat di negaranya.

          Thariq terus mengejar para pejabat Gotik ke gunung, hingga mendapatkan harta rampasan yang sangat banyak. Harta dan para tawanan dibawa ke Toledo. Di sana para tawanan dipekerjakan untuk membangun kembali kota itu, antara lain dengan membangun 365 tiang terbuat dari batu Zabarjud.

           Musa bin Nusair lalu mengirim surat kepada Thariq bin Ziyad, dan memerintahkannya untuk menghentikan gerakan, dan tetap berada di tempat surat itu tiba. Tapi, Thariq malah mengumpulkan para pejabatnya, merundingkan strategi perang.  Semuanya berpendapat melaksanakan perintah Musa akan mempersulit strategi perang mereka. Sebab, sudah terbuka untuk merekrut pasukan asal Toledo dan meraih momentum untuk menyerang lawan yang belum menyadari situasi.


          Karena itu Thariq melanjutkan penaklukan seraya merekrut milisi dari warga Toledo yang sudah kalah. Thariq mengabarkan keputusannya ini kepada Musa bin Nushair disertai alasan-lasannya.

           Ketika pesan Thariq sampai, Musa langsung berangkat ke Spanyol  pada bulan Juni 712 M dengan membawa 18.000 tentara, kebanyakan orang Arab. Dan seperti yang pernah disepakati dengan Thariq, pasukan Musa bin Nushair segera menuju Sevilla, kota terkuat Spanyol saat itu. Sebelum ke Sevilla pasukan Musa menaklukkan Medina Sidon dan Carmona. Musa mengepung ketat kota Sevilla dan akhirnya berhasil menghancurkan kota pusat kebudayaan Spanyol itu.  Namun kota itu ditinggalkan Musa dalam keadaan kobaran api dan ia melanjutkan perjalanan  ke arah Toledo.

          Warga Sevilla tetap tak rela terhadap pendudukan oleh pasukan Muslim di sana. Setelah panglima Musa bin Nushair meninggalkan kota itu, milisi Sevilla kembali beraksi mengobarkan pemberontakan. Mereka dapat membunuh tentara Muslim. Mendengar berita itu, Musa segera mengirim anaknya Abdul Aziz, untuk kembali ke Sevilla. Ia sendiri terus menuju Toledo.

           Mendengar kabar akan datangnya panglima utamanya, Musa bin Nushair, Thariq segera keluar ke perbatasan Toledo untuk menyambut Musa. Namun Musa sangat marah kepadanya. Thariq dianggap telah mengabaikan perintahnya untuk menghentikan sementara penaklukkan sampai ia datang ke Spanyol. Begitu marahnya Musa sampai ia memasukkan jendralnya itu ke dalam penjara layaknya seorang penjahat.

          Di depan sidang dewan pertahanan, Musa menyatakan memecat Thariq bin Ziyad, dengan tujuan memperbaiki segala sesuatu yang telah dilakukan Thariq. Sekalipun Thariq berupaya menjelaskan bahwa keputusannya itu dilakukan demi kemaslahatan kaum Muslimin dan sudah dimusyawarahkan dengan para penasehat, Musa tetap teguh pada pendiriannya. Ia mengganti Thariq dengan Mughits bin Al-Harits, tapi Mughits menolaknya. Ia segan menjadi komandan di atas Thariq sang pemeberani.

           Mughits bahkan bertekad membela Thariq bin Ziyad. Diam-diam dia mengirim kabar kepada Khalifah Al-Walid bin Abdul Malik tentang situasi yang berkembang.  Al-Walid sangat marah mendengarnya. Ia lalu menyurati Musa dan memerintahkan agar kedudukan Thariq dipulihkan sebagai komandan pasukan. Dan Musa menaati perintah pemimpinnya di Damaskus itu.

          Kemudian kedua panglima itu bergerak terus ke utara, hingga berhasil menaklukkan Castilla, Aragon dan Catalonia (Barcelona). Keduanya bahkan sampai ke pegunungan Pyrennes yang menjadi batas antara Spanyon dan Perancis. Sekiranya tidak ada perintah dari Damaskus untuk menghentikan penaklukan, niscaya gerakan mereka berdua tak tertahankan untuk menguasai seluruh benua Eropa.

         Perjalanan hidup panglima Thariq bin Ziyad, sang penakluk Spanyol yang agung telah menjadi bagian dari sejarah patriotisme Islam melalui penaklukan Andalusia. [Widad/Miftahul Jannah]


[1] Baca Daulatu al-Islam fii al-Andalusia, oleh Dr. Abdullah ‘Inan.
[2] Antara lain: Al Hasan dan Al-Husein bin Ali bin Abi Thalib (cucu Rasulullah), Abdullah bin Umar ibnul –Khaththab, Abdullah bin ‘Amr ibnnul-‘Ash, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, Abdurrahman bin Abu Bakar, dan lainnya (-Ed).
[3] Taarikh Fath al-Maghribi wa al-Andalus, Dr. Al-‘Ubadi

- 
                Sumber:
http://www.voa-islam.com

Kisah Imam Bukhari Bersama Gurunya


Abu ‘Abdillah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Mughirah bin Bardizbah, atau yang lebih dikenal sebagaiAl-Imam Al-Bukhari, seorang Imam Ahli Hadits. Siapa di antara kaum muslimin yang tidak mengenal beliau? Minimal bagi kita yang mengaku sebagai seorang muslim, pasti pernah mendengar nama beliau.
Sebuah kisah yang menarik, yang terjadi di daerah An-Naisaburiy antara Imam Bukhari dan gurunya, Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhliy. Dalam kisah ini, sang guru hasad terhadap Al-Bukhari , karena sebagian jama’ah pengajiannya pindah ke majelisnya Al-Bukhari. Oleh karena itu, sang guru menyebarkan berita dusta tentang Al-Bukhari. Kisah ini dimuat dalam kitab Siyar A’laamin Nubalaa karya Al-Imam Adz-Dzahabi (12/459).
Dari Ahmad bin Salamah, ia berkata, “Suatu hari aku masuk menemui Al-Bukhari, maka kukatakan padanya: Wahai Abu ‘Abdillah[1], orang ini (Adz-Dzuhliy) adalah orang yang perkataannya di dengar[2] di daerah Khurasan, khususnya di kota ini. Dan telah dekat perkataan ini, sampai tidak ada satu pun dari kami yang mempu berkata (menasehati) beliau. Lalu Apa pendapatmu?”
Maka Al-Bukhari memegang jenggotnya kemudian berkata,
“Dan kupasrahkan semua urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah melihat (kondisi) hamba-hamba Nya.” (QS. Ghafir: 44)
“Yaa Allah, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidaklah menginginkan kedudukan di Naisaburiy ini karena sombong, tidak pula aku mecari kekuasaan. Akan tetapi diriku enggan untuk kembali ke kampung halamanku (Bukhara), karena banyaknya penyimpangan (kemaksiatan) di sana. Dan orang ini (Adz-Dzuhliy) telah bermaksud hasad kepadaku dengan apa yang telah Allah karuniakan padaku[3], dan tidak Allah berikan pada orang selain diriku.”
Kemudian Al-Bukhari berkata kepadaku, “Wahai Ahmad, aku akan pergi (dari Naisaburiy) esok hari, agar aku terbebas dari pembicaraan (Adz-Dzuhliy) karena membicarkanku.”[4]
Beberapa faedah yang bisa dipetik dari kisah ini
Seorang yang berstatus sebagai orang yang berilmu, tidak luput dari penyakit hati yang namanya hasad. Pada awalnya Al-Bukhari belajar pada Adz-Dzuhliy, dan ternyata Al-Bukhari menjadi lebih berilmu dibandingkan gurunya. Sebagian  yang mengaji pada Adz-Dzuhliy pindah ke majelisnya Al-Bukhari. Kemudian Adz-Dzuhliy mengarang berita dusta tentang Al-Bukhari karena motivasi hasad. Lihatlah fenomena jaman sekarang, tidak sedikit ustadz yang satu menyerang ustadz lainnya karena motivasi hasad, yaitu jama’ah pengajiannya lebih sedikit atau pindah ke ustadz lainnya. Masalah pribadi dibawa ke dalam masalah manhaj.Wallahul Musta’an.
Al-Bukhari bukanlah seseorang yang berdakwah karena motivasi kedudukan, kekuasaan, atau pun sombong dengan ilmunya. Hendaknya setiap da’i yang menyeru di jalan Allah dapat meneladani sikap beliau. Dakwah itu bukan untuk mencari massa hingga yang didapatkan adalah kedudukan dan kekuasaan.
Suatu sikap yang sangat tepat, yang dilakukan oleh Al-Bukhari. Beliau menutup pintu perpecahan dengan cara mengalah. Dan boleh jadi hal itu karena Adz-Dzuhliy adalah salah satu gurunya[5]. Ia tidak ingin bersaing dengan orang yang pernah memberikan jasa kepadanya. Dan tidak ingin gurunya berdosa karena terus-menerus membicarakan beliau. Beliau mengalah dengan kembali ke kampung halamannya, dan qadarullah mewafatkan beliau sebelum beliau sampai di kampung halamannya.[6]
Al-Bukhari memasrahkan segala urusannya hanya kepada Allah. Karena ia berharap suatu saat Allah akan menampakkkan yang haq sebagai yang haq, dan bathil sebagai yang bathil. Dan terbukti kebenaran itu tampak dengan mendunianya karya beliau dari zaman ke zaman. Tersebarnya dan terjaganya karya beliau dari berbagai penjuru. Tidak ada satu pun orang Islam yang tidak pernah mendengar nama beliau kecuali keislamannya bisa diragukan. Dan pada akhirnya kaum muslimin mengenal siapa itu Al-Bukhari, dan boleh jadi baru mendengar pertama kali siapa itu guru Al-Bukhari, yaitu Muhammad bin Yahya Adz-Dzuhliy.

sumber:
http://pemudamuslim.com

Sabtu, 08 Maret 2014

UTSMAN BIN AFFAN



بسـم اللـه الرحمن الرحيـم
Pemilik dua cahaya, itulah julukan bagi sahabat Rasul yang satu ini. Beliau adalah Abu Amr Utsman bin Affan bin Abil ‘Ash bin Umayyah bin Abdusy Syams bin Abd Manaf bin Qushai. Menikah dengan dua putri Rasulullah s, pertama dengan Ruqayyah g dan kedua Ummu Kultsum g. Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah s pada Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab.
Beliau d juga salah satu dari sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga. Beliau juga termasuk anggota dewan syura dan khalifah ketigaalmahdiyyin yang harus kita ikuti.
Disebutkan dalam sejarah bahwa semasa jahiliyyah, Utsman bin Affan termasuk orang yang paling mulia di antara kaumnya. Beliau memiliki sifat malu yang luar biasa, kata-katanya jernih, indah dan enak didengar. Kaumnya sangat mencintai dan menghormati  beliau, dan tidak pernah tunduk (sujud) kepada berhala sekalipun, tidak pernah melakukan fahisyahsedikitpun, beliau juga tidak meminum khamar di zaman jahiliyyah.[1] Beliau juga dikenal dengan kelembutan dan kedermawanannya.
Utsman bin Affan dmasuk Islam melalui dakwah Abu Bakar Ash-Shiddiqd. Beliau adalah orang pertama yang hijrah ke negeri Habasyah (Ethiopia) bersama istrinya Ruqayyah binti Rasulullah g, kemudian kembali ke Makkah dan hijrah ke Madinah. Beliau tidak dapat ikut serta pada perang Badar karena sibuk mengurusi putri Rasulullah s (istri beliau) yang sedang sakit. Jadi beliau hanya tinggal di Madinah. Rasulullah memberikan bagian dari harta rampasan dan pahala perang tersebut kepada beliau dan beliau dianggap ikut serta dalam peperangan. Ketika istri beliau meninggal, Rasulullah s menikahkannya dengan adik istrinya yang bernama Ummu Kultsum g yang pada akhirnya juga meninggal ketika masih menjadi istri beliau. Rasulullah s bersabda: “Seandainya aku mempunyai putri lagi, sungguh akan kunikahkan dengan Utsman”. Beliau ikut serta dalam peperang Uhud, Khandaq, perjanjian Hudaibiyah yang pada waktu itu Rasulullah s membai’atkan untuk Utsman dengan tangan beliau sendiri. Utsman bin Affan d juga ikut serta dalam perang Khaibar, Tabuk, dan juga pernah memberikan untuk pasukan ‘usrah sebanyak tiga ratus ekor unta dengan segala perlengkapannya.
Dari Abdurrahman bin Samurahd, bahwa pada suatu hari Utsman bin Affand datang membawa seribu dinar dan meletakkannya di kamar Rasulullah, Rasulullah s bersabda, “Tidak ada dosa lagi bagi Utsman setelah ia melakukan ini (diucapkan dua kali).” (HR. Ahmad, at-Tarmidzi)[2]
Jika Umar bin Khaththabd ditakuti oleh syaitan, maka Utsman bin ‘Affand lain lagi, malaikat malu kepadanya. Sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits,
Hidup beliau tidak terlepas dari fitnah, terlebih saat akhir hayat beliau. Hal ini sudah pernah diingatkan oleh Rasulullah s kepadanya, bahwa beliau akan mendapatkan fitnah. Namun, bagaimanapun kerasnya fitnah pada saat itu, beliau tetap di atas kebenaran.
Imam Ahmad berkata, “Affan telah mengatakan kepada kami dan ia berkata, Wuhaib telah mengatakan kepada kami dan ia berkata, Musa bin ‘utbah telah mengatakan kepadaku bahwa ia masuk ke dalam rumah dan Utsman sedang terkepung di dalamnya. Beliau mendengar Abu Hurairah yang meminta izin untuk bicara maka beliau mengizinkannya. Ia berdiri seraya memuji Allah Ta’ala lantas berkata, “Aku mendengar Rasulullah sbersabda,
Khot
‘Sesungguhnya kalian akan menemui fitnah dan perselisihan setelahku nanti –atau beliau berkata perselisihan dan fitnah- salah seorang bertanya, “Siapa yang harus kami ikuti ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ikutilah al-Amin ini dan para sahabatnya.” Sambil menunjuk kepada Utsman.[3]
***
sumber : http://remajaislam99.blogspot.com